14289

January 31, 2007

Proses pembentukan Minyak Bumi

Filed under: IPTEK

MINYAK BUMI
< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> Bumi memiliki permukaan dan variabel yang sangat kompleks. Relief topografi bumi dan komposisi materialnya menggambarkan bebatuan pada mantel bumi dan material lain pada permukaan dan juga menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Masing-masing tipe bebatuan, patahan di muka bumi atau pengaruh-pengaruh gerakan kerak bumi serta erosi dan pergeseran-pergeseran muka bumi menunjukkan perjalanan proses hingga membangun muka bumi seperti saat ini. Proses ini dapat difahami melalui disiplin ilmu geo-morfologi.

Eksplorasi sumber daya mineral merupakan salah satu aktifitas pemetaan geologi yang penting. Pemetaan geologi sendiri mencakup identifikasi pembentukan lahan (landform), tipe bebatuan, struktur bebatuan (lipatan dan patahannya) dan gambaran unit geologi. Saat ini hampir seluruh deposit mineral di permukaan dan dekat permukaan bumi telah ditemukan. Karenanya pencarian sekarang dilakukan pada lokasi deposit jauh di bawah permukaan bumi atau pada daerah-daerah yang sulit dijangkau. Metode geo-fisika dengan kemampuan penetrasi ke dalam permukaan bumi secara umum diperlukan dalam memastikan keberadaan deposit ini inyak bumi dan gas dalam pembicaraan kita-. Akan tetapi informasi awal tentang kawasan berpotensi untuk eksplorasi mineral lebih banyak dapat diperoleh melalui interpretasi ciri-ciri khusus permukaan bumi pada foto udara atau citra satelit.

Belakangan analisa menggunakan citra satelit lebih banyak dilakukan daripada foto udara, karena citra satelit memiliki beberapa nilai lebih, seperti:

1. mencakup area yang lebih luas, sehingga memungkinkan dilakukan analisa dalam skala regional, yang seringkali menguntungkan untuk memperoleh gambaran geologis area tersebut;

2. memiliki kemungkinan penerapan sensor pendeteksi multi-spektral dan bahkan hiper-spektral yang nilainya dituangkan secara kuantitatif (disebut derajat keabuan atau Digital Number dalam remote sensing), sehingga memungkinan aplikasi otomatis pada komputer untuk memahami dan mengurai karakteristik material yang diamati;

3. memungkinkan pemanfaatkan berbagai jenis data, seperti data sensor optik dan sensor radar, serta juga kombinasi data lain seperti data elevasi permukaan bumi, data geologi, jenis tanah dan lain-lain, sehingga dapat ditentukan solusi baru dalam menentukan antar-hubungan berbagai sifat dan fenomena pada permukaan bumi.

Tulisan singkat ini akan mengupas bagaimana minyak dan gas bumi tersimpan di perut bumi, bagaimana hubungan lokasi tersimpannya mineral ini dengan struktur bebatuan di dalamnya. Proses rangkaian eksplorasi dijelaskan secara umum. Kemudian untuk menjelaskan potensi teknik remote sensing dalam menemukan lokasi tersebut, akan dijelaskan tentang fungsi pemetaan geologi dan hubungannya dengan pendugaan struktur bebatuan di bawah permukaan bumi, tempat yang memungkinkan ditemukannya minyak dan gas bumi.

Proses Pembentukan

Minyak dan gas dihasilkan dari pembusukan organisma, kebanyakannya tumbuhan laut (terutama ganggang dan tumbuhan sejenis) dan juga binatang kecil seperti ikan, yang terkubur dalam lumpur yang berubah menjadi bebatuan. Proses pemanasan dan tekanan di lapisan-lapisan bumi membantu proses terjadinya minyak dan gas bumi. Cairan dan gas yang membusuk berpindah dari lokasi awal dan terperangkap pada struktur tertentu. Lokasi awalnya sendiri telah mengeras, setelah lumpur itu berubah menjadi bebatuan.

Minyak dan gas berpindah dari lokasi yang lebih dalam menuju bebatuan yang cocok. Tempat ini biasanya berupa bebatuan-pasir yang berporos (berlubang-lubang kecil) atau juga batu kapur dan patahan yang terbentuk dari aktifitas gunung berapi bisa berpeluang menyimpan minyak. Yang paling penting adalah bebatuan tempat tersimpannya minyak ini, paling tidak bagian atasnya, tertutup lapisan bebatuan kedap. Minyak dan gas ini biasanya berada dalam tekanan dan akan keluar ke permukaan bumi, apakah dikarenakan pergerakan alami sebagian lapisan permukaan bumi atau dengan penetrasi pengeboran. Bila tekanan cukup tinggi, maka minyak dan gas akan keluar ke permukaan dengan sendirinya, tetapi jika tekanan tak cukup maka diperlukan pompa untuk mengeluarkannya.

  Proses Eksplorasi: Pemetaan Lineaments, Lithologic dan Geo-botanic

Eksplorasi sumber minyak dimulai dengan pencarian karakteristik pada permukaan bumi yang menggambarkan lokasi deposit. Pemetaan kondisi permukaan bumi diawali dengan pemetaan umum (reconnaissance), dan apabila ada indikasi tersimpannya mineral, dimulailah pemetaan detil. Kedua pemetaan ini membutuhkan kerja validasi lapangan, akan tetapi kerja pemetaan ini sering lebih mudah jika dibantu foto udara atau citra satelit. Setelah proses pemetaan, kerja eksplorasi lebih intensif pada metoda-metoda geo-fisika, terutama seismik, yang dapat memetakan konstruksi bawah permukaan bumi secara 3-dimensi untuk menemukan lokasi deposit secara tepat. Kemudian dilakukan uji pengeboran.

Sumbangan teknik remote sensing terutama diberikan pada proses pemetaan, yaitu pemetaan lineaments, jenis bebatuan di permukaan bumi dan jenis tetumbuhan.

Eksplorasi minyak dan gas bumi selalu bergantung pada peta permukaan bumi dan peta jenis-jenis bebatuan serta struktur-struktur yang memberi petunjuk akan kondisi di bawah permukaan bumi dengan yang cocok untuk terjadinya akumulasi minyak dan gas. Remote sensing berpotensi dalam penentuan lokasi deposit mineral ini melalui pemetaan lineaments. Lineaments adalah penampakan garis dalam skala regional sebagai akibat sifat geo-morfologis seperti alur air, lereng, garis pegunungan, dan sifat menonjol lain yang menampak dalam bentuk zona-zona patahan. Dengan menggunakan citra satelit gambaran keruangan alur air misalnya dapat dilihat dalam skala luas, sehingga kemungkinan mencari relasi keruangan untuk lokasi deposit mineral lebih besar.

Pemetaan lineament walaupun dapat dilakukan secara monoskopik (menggunakan satu citra), tetapi akan lebih produktif jika digabungkan dengan pemetaan lithologic atau pemetaan unit-unit bebatuan yang dilakukan secara stereoskopik (yang dapat mendeteksi ketinggian, karena dilakukan pada dua buah citra stereo). Kalangan ahli geologi meyakini bahwa refleksi gelombang elektromagnetik pada kisaran 1,6 sampai 2,2 mikrometer (=10-6 meter) atau pada spektrum pertengahan infra-merah (1,3 3,0 mikrometer) sangat cocok untuk eksplorasi mineral dan pemetaan lithologic. Keberhasilan pemetaan ini bergantung pada bentuk topografi dan karakteristik spektral sebagaimana diamati citra satelit. Untuk kawasan yang dipenuhi tumbuhan, mesti dilakukan pendekatan geo-botanic, yaitu pengetahuan tentang hubungan antara jenis tetumbuhan dengan kebutuhan nutrisi serta air pada tanah tempat tumbuhan ini tumbuh. Dengan demikian distribusi tetumbuhan pun dapat menjadi indikator dalam mendeteksi komposisi tanah dan material bebatuan di bawahnya.

Interpretasi citra dalam menemukan garis-garis patahan geologis memang membutuhkan keahlian tersendiri. Jika hanya mengandalkan lineaments, maka beberapa riset menunjukkan cukup banyak perbedaan interpretasi. Karenannya data garis ini dikorelasikan dengan karakteristik lain yang tertangkap sensor remote sensing, yaitu jenis bebatuan, yang merupakan cerminan mineralisasi permukaan bumi. Studi tentang jenis bebatuan dan respon spektral sangat membantu pencarian permukaan di mana deposit mineral tersimpan.

LaruKu maNia !!

Filed under: Lyric Lagu

LINK
< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> Artist : L’Arc~en~Ciel
  Oboete iru kai?
Osanai koro kara tsumesakitachi de todokanai tobira ga atta yo ne
Jikan wo wasurete samayoi tsukushita
Meiro no michi wa itsumo soko ni ikiataru

Muishiki ni kimi no egao wo sagasu no wa tomerarenai
Nani hitotsu kawarazu ni ima mo boku wa kakete yuku

Tatoe haruka tooku hanarebanare ni nattemo tsunagariau omoi
Itazura na unmei ga furikakarou to mo koware ya shinai

Nozomareru asu ga sono saki ni aru to
Atama no oku de daremo ga kidzuite iru hazu sa
Harewataru hibi ni arasoi no dougu ga
Kiesaru toki wo itsuka kimi ni misetai na

Kizutsukeau no wo yamenai ochite yuku sekai dakedo
Kimi ni deaeta koto dake de mou nani mo kowaku wa nai

Tatoe kono karada ga ikura moetsukitemo ii sa kimi ni sasagu nara
Oozora e to boku wa masshiro ni maiagari mamotte ageru

Tatoe haruka tooku hanarebanare ni nattemo tsunagariau omoi
Itazura na unmei ga furikakarou to mo koware ya shinai

Tatoe kono karada ga ikura moetsukitemo ii sa kimi ni sasagu nara
Itsuka umarekawaru sekai ga sono me ni todoku to ii na

January 24, 2007

wireLess gitu gaNti….

Filed under: Uncategorized

Dalam rangkaian, ada beberapa komponen atau bagian rangkaian yang perlu di-GND-kan. Jalur tembaga pada PCB memiliki resitansi walaupun kecil. Semakin panjang jalurnya, semakin besar R (di samping akan muncul masalah kapasitif antar-jalur yang saling berdekatan). Nah, karena dalam desain PCB tidak mungkin semua kebutuhan akan GND ini ditemukan dalam satu titik, maka berlaku hukum “tidak ideal”: beberapa titik GND di antaranya menerima dengan tambahan “R” tadi. Idealnya, titik GND adalah nol (benar-benar nol) volt. Kenyataannya, kondisi ini tidak pernah dapat dicapai karena masalah di atas.
Analog Ground Vs Digital Ground

Permasalahan muncul ketika kita membuat sistem yang terdiri dari rangkaian analog dan rangkaian digital. Bagaimana kita menempatkan GND Power Suply??? Sifat rangkaian digital pada umumnya non-linier, sedangkan analog adalah linier. Pada rangkaian linier, noise (berisik, desis, desah, siss…) adalah musuh utama. Nomor dua: hum (dengung). Riskan dan tidak ideal menempatkan kedua rangkaian berbeda ini dalam satu rangkaian dengan desain GND yang ceroboh. Sebab, karena ketidak-idealan di atas, jalur GND tidak lagi benar-benar bersih (nol). Ada noise di sana yang akan mengganggu atau saling menggangu. Memasang PS terpisah bagi keduanya mungkin bukan solusi yang tepat. Cara yang paling baik dan efisien adalah membuat jalur GND ke dua rangkaian tersebut “berangkat secara terpisah” (ini penjelasan praktisnya). Titik temuannya tetap satu di unit PS, tetapi jalur perginya berbeda (terpisah). Jadi, bukan berangkat satu jalur, lalu “ketemu sekenanya”.

Simpulan: Dengan demikian (ini penjelasan praktisnya), titik GND unit PS dibuat seakan berada di tengah-tengah antara ujung GND digital (katakanlah di sisi kiri) dan unjung GND analog (katakanlah di sisi kanan). Ketika terjadi noise di sisi analog (kanan), tidak akan sampai menyebrang ke sisi digital (kiri) karena ketika noise melewati “titik temu” di unit PS dia akan amblas (reduce) menjadi nol lagi. Begitupula sebaliknya. Karena itu pada, dalam desain PCB selalu disarankan untuk membuat jalur GND lebih tebal/lebar daripada jalur lainnya bukan cuma perkara “kebutuhan arus yang lewat” tetapi juga untuk semaksimalkan mungkin merendahkan resistansi jalur tembaga. Biasanya jalur GND dibuat mengelilingi (seakan melindungi) rangkaian, tetapi pada ujung-ujungnya (bila jalur GND berangkat dengan lebih dari satu jalur dari unit PS) tidak boleh bertemu (kalau terjadi, sama saja bohong). Pada rangkaian analog, buatlah jalur GND itu urut dari kebutuhan arus besar terlebih dahulu baru ke yang lebih kecil. Contoh: GND untuk output (speaker) lebih dahulu daripada GND input (sinyal kecil). Atau dibuatkan jalur terpisah, tetapi R jalur GND output lebih kecil (jalur tembaga lebih tebal/lebar) daripada R untuk GND input.

January 17, 2007

Hello world!

Filed under: Uncategorized

Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the forums — we are only too willing to help.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan